Hubungan Penggunaan Air Conditioner (AC) dan Gadget dengan Kejadian Sindroma Mata Kering pada Siswa SMA Laboratorium School Syiah Kuala Banda Aceh
Abstract
Sindroma mata kering merupakan gangguan pada lapisan air mata yang terjadi akibat ketidakseimbangan homeostasis film air mata dan dapat dipicu oleh faktor lingkungan seperti paparan Air Conditioner (AC) dan penggunaan gadget dalam durasi panjang. Penggunaan AC yang menurunkan kelembapan ruangan serta penggunaan gadget yang dapat mengurangi frekuensi berkedip berpotensi mempercepat evaporasi air mata dan menyebabkan gejala mata kering, terutama pada remaja dengan aktivitas belajar tinggi di lingkungan ber-AC. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan penggunaan AC dan gadget dengan kejadian sindroma mata kering pada siswa SMA Laboratorium School Syiah Kuala Banda Aceh. Penelitian ini merupakan studi analitik observasional dengan desain cross-sectional yang dilakukan pada bulan Oktober 2025, melibatkan 229 siswa yang dipilih melalui stratified random sampling berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner penggunaan AC, kuesioner penggunaan gadget, dan dengan uji Ocular Surface Disease Index (OSDI). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswa menggunakan AC dengan kategori sangat sering (41,5%), serta menggunakan gadget dalam kategori sangat tinggi (70,7%). Sebanyak 34,1% responden mengalami sindroma mata kering kategori berat. Hasil uji korelasi Spearman menunjukkan kekuatan hubungan arah positif penggunaan AC yang sangat sering maka sindroma mata kering berat (p = 0,001; r = 0,298), sedangkan penggunaan gadget tidak berhubungan (p = 0,174; r = 0,090). Dapat disimpulkan bahwa penggunaan AC berhubungan dengan kejadian sindroma mata kering pada siswa.
Dry eye syndrome is a disorder of the tear film that occurs due to an imbalance in tear film homeostasis and can be triggered by environmental factors such as exposure to air conditioning (AC) and prolonged gadget use. The use of AC reduces indoor humidity, while prolonged gadget use may decrease blink frequency, both of which can accelerate tear evaporation and lead to dry eye symptoms, particularly among adolescents with high academic activity in air-conditioned environments. This study aimed to determine the relationship between AC use and gadget use with the incidence of dry eye syndrome among students of SMA Laboratory School Syiah Kuala, Banda Aceh. This study was an observational analytic study with a cross-sectional design conducted in October 2025, involving 229 students selected through stratified random sampling based on inclusion and exclusion criteria. Data were collected using an AC usage questionnaire, a gadget usage questionnaire, and the Ocular Surface Disease Index (OSDI) questionnaire. The results showed that the majority of students used AC very frequently (41.5%) and had very high levels of gadget use (70.7%). A total of 34.1% of respondents experienced severe dry eye syndrome. Spearman correlation analysis demonstrated a positive correlation between very frequent AC use and severe dry eye syndrome (p = 0.001; r = 0.298), whereas gadget use was not significantly associated with dry eye syndrome (p = 0.174; r = 0.090). In conclusion, AC use was significantly associated with the occurrence of dry eye syndrome among students.

