Tantangan Klinis pada Kasus Kecurigaan Rabies yang Berakibat Fatal
Abstract
Latar belakang: Rabies merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh rabies Lyssavirus dengan tingkat fatalitas hampir 100% setelah gejala klinis muncul. Indonesia, termasuk Aceh, masih menjadi daerah endemis rabies dengan angka gigitan hewan penular rabies yang cukup tinggi yang berisiko tinggi terhadap kematian.
Laporan kasus: Seorang laki-laki berusia 35 tahun, petani kopi, mengalami gigitan anjing liar di lengan kiri bawah dua bulan sebelum masuk rumah sakit. Luka hanya dicuci dengan air tanpa profilaksis paska paparan yang adekuat. Pasien kemudian menunjukkan gejala khas rabies berupa hidrofobia, aerofobia, disfagia, hipersalivasi, serta perilaku gelisah. Pemeriksaan fisik mendukung diagnosis rabies ensefalitis akut. Pasien sempat mendapat vaksin anti rabies (VAR) satu kali sebelum dirujuk, namun tanpa pemberian imunoglobulin. Saat perawatan pasien mengalami perburukan cepat hingga henti napas dan henti jantung, lalu meninggal dunia.
Diskusi: Kasus rabies merupakan tantangan klinis dalam penatalaksanaan di daerah endemis. Keterlambatan profilaksis paska paparan, kurangnya pengetahuan masyarakat dalam perawatan luka, serta keterbatasan akses terhadap imunoglobulin rabies berkontribusi pada fatalitas pasien. Rabies tetap menjadi penyakit dengan mortalitas tinggi, dan hingga kini belum tersedia terapi kuratif yang efektif setelah gejala klinis muncul. Oleh karena itu, strategi utama adalah pencegahan melalui vaksinasi pra maupun paskla paparan, edukasi masyarakat, serta kesiapan fasilitas kesehatan dalam menyediakan tatalaksana yang komprehensif.
Kesimpulan: Kasus rabies tetap menjadi penyakit fatal tanpa terapi kuratif setelah gejala muncul. Pencegahan melalui profilaksis paska paparan yang tepat yaitu perawatan luka, pemberian VAR, dan imunoglobulin merupakan langkah krusial untuk menurunkan angka kematian. Edukasi masyarakat dan kesiapan fasilitas kesehatan sangat penting dalam penanganan gigitan hewan penular rabies.

