Keberhasilan Tatalaksana ST Elevation Myocardial Infarction (STEMI) dengan Streptokinase

  • Hendra Wahyudi Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, RSUD Zainoel Abidin, Banda Aceh.
  • Azhari Gani Divisi Kardiologi, Bagian/SMF Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, RSUD Zainoel Abidin Banda Aceh
Keywords: STEMI, reperfusi, trombolitik, streptokinase

Abstract

Berdasarkan hasil survei kesehatan rumah tangga yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan, penyakit kardiovaskular merupakan penyebab pertama kematian di Indonesia. Bagian  terpenting dari penyakit kardiovaskular ini  adalah infark miokard akut. Infark miokard akut dengan elevasi segmen ST (ST elevation myocardial infarction = STEMI) merupakan bagian dari spektrum sindrom koroner akut (SKA) yang  terdiri dari  angina pektoris tak stabil, STEMI, dan Non ST elevation myocardial infarction (NSTEMI). Sekitar 30% kematian pada infark miokard akut terjadi pada jam pertama setelah timbulnya serangan infark miokard tersebut Untuk mengurangi angka mortalitas tersebut diperlukan penatalaksanaan yang optimal. Reperfusi dengan obat - obatan trombolitik seperti streptokinase merupakan bagian dari penatalaksanaan tersebut. Dilaporkan satu kasus ST elevation myocardial infarction (STEMI) anterior-ekstensif pada seorang laki-laki, usia 43 tahun, dimana diagnosis ditegakkan berdasarkan kriteria WHO. Dilakukan reperfusi dengan pemberian streptokinase sebagai trombolitik dan dijumpai keberhasilan reperfusi yang ditandai dengan nyeri dada yang jauh berkurang dan dari pemeriksaan EKG didapati penurunan ST elevasi kembali ke garis isoelektrik >50% setelah selesai pemberian streptokinase.

 

Published
2020-11-21