Peran Makanan Lokal dalam Penurunan Stunting

  • Husnah Husnah Bagian Gizi, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
  • Sakdiah Sakdiah Bagian Biokimia, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
  • Azis Khairul Anam Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kula, Banda Aceh
  • Asmaul Husna Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kula, Banda Aceh
  • Ghina Mardhatillah Program Studi Profesi Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kula, Banda Aceh
Keywords: Makanan Lokal, Stunting, MPASI

Abstract

Stunting diukur dengan tinggi-berdasarkan usia-usia z-score lebih dari 2 standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menunjukkan pembatasan potensi pertumbuhan anak. Stunting anak dapat terjadi pada 1000 hari pertama setelah pembuahan dan berhubungan dengan banyak faktor, antara lain status sosial ekonomi, asupan makanan, infeksi, status gizi ibu, penyakit infeksi, defisiensi mikronutrien dan lingkungan. Intervensi gizi spesifik dengan sasaran Ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan merupakan bagian dari kerangka intervensi stunting yang telah dilakukan oleh pemerintah. Intervensi ini meliputi kegiatan untuk mendorong penerusan pemberian ASI hingga anak/bayi berusia 23 bulan. Kemudian, setelah bayi berusia diatas 6 bulan didampingi oleh pemberian MPASI Makanan lokal memiliki zat gizi yang tinggi baik makro maupun mikro. Makanan lokal ini banyak mengandung karbohidrat, protein, lemak, dan mineral yang digunakann sebagai maknan tambahan bagi balita dapatsangat dibutuhkan untuk pertumbuhan dan perkembangan balita. Beberapa penelitian menunjukkan pemberian MPASI dari makanan lokal yang bergizi tinggi memberikan pengaruh pada status gizi balita stunting dengan meningkatkan BB dan PB dari balita stunting. Kandungan gizi baik karbohidrat, protein, lemak, dan zinc yang tinggi pada MPASI dari makanan lokal bermanfaat untuk pemenuhan gizi balita stunting.

 

Published
2022-09-27