Terapi Konservatif pada Pasien Pyohydronefrosis

  • Desi Salwani Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
  • Maimun Syukri Divisi Nephrologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, University of Syiah Kuala/Rumah Sakir Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh
  • Abdullah Abdullah Divisi Nephrologi, Bagian Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, University of Syiah Kuala/Rumah Sakir Dr. Zainoel Abidin, Banda Aceh
  • Nanda Putri Wijayanti Program Studi Pendidikan Dokter Spesialis Ilmu Penyakit Dalam, Fakultas Kedokteran, University of Syiah Kuala, Banda Aceh
Keywords: Pyonefrosis, nefrostomi, antibiotika, hidronefrosis

Abstract

Latarbelakang : Pyonefrosis merupakan infeksi purulent pada pevikokaliks. Sekitar 50-70% batu saluran kemih menyertai infeksi dan umumnya akibat Escherichia coli.Diagnosis terlambat dapat menyebabkan sepsis dan kematian. Ilustrasi kasus : Laki-laki dengan keluhan penurunan kesadaran, urin sedikit, demam, pucat, mual dan muntah. Pemeriksaan fisik tampak sakit berat, sesak dan demam, pemeriksaan abdomen menunjukkan ballotemen. Pemeriksaan laboratorium hemoglobin 7,8 mg/dL, leukosit meningkat, ureum dan kreatinin meningkat, kalium yang tinggi, albumin 3,3 mg/dL, kalsium 6,1 mmol/L, magnesium 2,3 mmol/L. Ultrasonografi dan CT scan abdomen menunjukkan hidronefrosis bilateral disertai pyonefrosis dan nefrolothiasis. Hasil kultur menunjukkan Staphylococcus haemolyticus. Pasien mendapat meropenem 3x1 gram secara intravena selama 8 hari. Hasil kultur mrnunjukkan infeksi sensitive dengan Vancomisin. Dosis awal vancomisin adalah 100 mg dan dosis pemeliharaan 50 mg setiap selesai hemodialisis. Hemodialisis dihentikan setelah insersi nefrostomi tube karena menunjukkan perbaikan kreatinin dan jumlah diuresis yang cukup. Diskusi : Penanganan awal adalah dengan memberikan antibiotika empiris, pilihan pada kasus ini adalah meropenem, hemodialysis suportif. Tatalaksana suportif lain adalah dengan cairan, nutrisi dan koreksi elektrolit.Penanganan antegrade dengan pemasangan tube nephrostomy percutaneous diindikasikan pada pasien dengan instabilitas hemodinamik.  Simpulan : Diagnosis yang tepat dan cepat sangat membantu dalam memberikan tatalaksana pada pasien. Nefrostomi dapat dilakukan pyonefrosis dengan kondisi tidak stabil.

Background: Pyonephrosis is a purulent infection of the pevicocalyx.1,2About 50-70% of urinary tract stones accompany infection and are generally due to Escherichia coli. Late diagnosis can lead to sepsis and death. Case illustration: A man with complaints of loss of consciousness, decreased of volume urine, fever, paleness, nausea and vomiting. Physical examination showed severe pain, shortness of breath and fever. Abdominal examination showed balloment. Laboratory examination of hemoglobin 7.8 mg/dL, leukocytes increased, urea and creatinine increased, high potassium, albumin 3.3 mg/dL, calcium 6.1 mmol/L, magnesium 2.3 mmol/L. Ultrasonography and CT scan of the abdomen showed bilateral hydronephrosis with pyonephrosis and nephrolithiasis. The culture results showed Staphylococcus haemolyticus. The patient received meropenem 3x1 gram intravenously for 8 days. Culture results show sensitive infection with Vancomycin. The initial dose of vancomycin is 100 mg and the maintenance dose is 50 mg after each hemodialysis. Hemodialysis was discontinued after insertion of a nephrostomy tube because it showed improvement in creatinine and an adequate diuresis. Discussion : Initial treatment is to give empirical antibiotics, the choice in this case is meropenem, supportive hemodialysis. Other supportive management is with fluids, nutrition and electrolyte correction. Antegrade management with percutaneous nephrostomy tube placement is indicated in patients with hemodynamic instability or sepsis. Conclusion: Accurate and rapid diagnosis is very helpful in providing management to patients. Nephrostomy can be performed pyonephrosis with unstable conditions.

Published
2022-10-17