Manajemen Anestesi pada Peritonitis

  • Fachrul Jamal Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran, Universitas Syiah Kuala/Rumah Sakit Umum Zainoel Abidin, Banda Aceh
  • Aldilla Rizky Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala/ Rumah Sakit Zainoel Abidin, Banda Aceh
Keywords: peritonitis, sepsis, anestesi, hemodinamik

Abstract

Peritonitis merupakan kasus bedah darurat yang membutuhkan perhatian khusus dan penanganan yang kompleks karena sebagian penderita datang terlambat dan sudah mengalami septikemia sehingga  meningkatkan angka morbiditas dan mortalitas. Peritonitis merupakan salah satu penyebab paling umum dari sepsis. Tingkat mortalitas keseluruhan perforasi peritonitis berkisar dari 6% hingga 36% tergantung pada luas dan penyebab perforasi, termasuk komplikasi pernapasan seperti pneumonia, atelektasis, efusi pleura, infeksi luka, septikemia dan diselektrolitemia. Penilaian perioperatif meliputi: keadaan hidrasi intravaskular, adanya syok atau disfungsi multi-organ dan adekuatnya resusitasi hemodinamik.  Manajemen preoperatif meliputi: optimalisasi hemodinamik untuk menghentikan atau mengendalikan peningkatan proses metabolik di fase pra-bedah dan selama pembedahan. Selama fese intraoperatif, anestesi umum dengan intubasi endotrakeal dan ventilasi terkontrol merupakan teknik pilihan. Pada tahap postoperatif, tindakan analgesia, sedasi dan ventilasi mekanis dipertahankan hingga akhir operasi.

Peritonitis is an emergency surgical case that requires special attention and complex treatment because some patients arrive late and already have septicemia, thereby increasing morbidity and mortality. Peritonitis is one of the most common causes of sepsis. The overall mortality rate of perforated peritonitis ranges from 6% to 36% depending on the extent and cause of the perforation, including respiratory complications such as pneumonia, atelectasis, pleural effusion, wound infection, septicemia and dyselectrolythemia. Perioperative assessment includes: state of intravascular hydration, presence of shock or multi-organ dysfunction and adequacy of hemodynamic resuscitation. Preoperative management includes: hemodynamic optimization to stop or control the increase in metabolic processes in the preoperative phase and during surgery. During the intraoperative phase, general anesthesia with endotracheal intubation and controlled ventilation is the technique of choice. In the postoperative stage, analgesia, sedation and mechanical ventilation were maintained until the end of the operation.

 

Published
2022-04-30